Ma’af, Kami Beda
assalaamu’alaikum wr. wb.
Maaf, kami bukan partai murahan seperti itu. Sebelum jadi partai pun kami sudah aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan, apalagi untuk Palestina. Jauh sebelum itu, para qiyadah kami sudah menggadai nyawa demi Palestina. Bagi kami, Al-Quds bukan di seberang lautan, melainkan sejarak uluran tangan. Memang hanya sedikit yang bisa kami lakukan, namun Allah Maha Teliti perhitungan-Nya.
Maaf, seandainya yang kami lakukan tempo hari itu dianggap kampanye. Jika kampanye adalah berkumpul, hura-hura, bersorak-sorai, sambil mengenakan atribut partai, maka kami bukanlah partai yang menggantungkan diri pada hal tersebut. Kami hanyalah sekelompok hamba Allah yang sederhana dan mudah dikenali. Jangankan dengan atribut partai, tanpa atribut pun biasanya orang mudah mengenali kami.
Kata Al-Qur’an, tidak ada shibghah yang lebih kental daripada shibghah Allah. Sudah pernahkah Anda mendengar kata ini? Jika kaus putih Anda berwarna merah setelah dicelup dalam cairan pewarna merah, itulah shibghah. Iman memang letaknya di dalam hati, namun tak mungkin sepenuhnya disembunyikan. Adakalanya hati ini bangkit ‘izzah-nya dan meluap-luap sampai orang-orang bisa melihatnya dari sorot mata, gurat senyum, dan tangan yang terkepal.
Maaf, kami memang tak pernah mementingkan atribut. Atribut apa pun yang dipakai, orang bilang kami ini begitu mudah dikenali. Kami hanya berdoa, itulah shibghah Allah; yang lebih kentara warnanya daripada warna-warni lainnya.
Kami sadar bahwa kami hidup di tengah-tengah peradaban yang begitu mementingkan atribut. Dengan atribut pun media massa masih tidak adil terhadap umat Islam; seolah-olah umat ini tak pernah memeras keringat demi negara. Masih ada saja yang bilang, “Buat apa mengurusi Palestina, sementara negeri sendiri ditelantarkan?” Sebagian diantara kami berkesimpulan bahwa inilah yang terjadi jika atribut ditanggalkan. Orang tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa kami pun ikut menyumbang negeri ini dengan darah, keringat, dan air mata. Oleh karena itu, kami pun tak berani meremehkan atribut.
Maaf, pikiran kami tak pernah sampai ke tempat yang Anda-Anda bicarakan. Beberapa hari sebelum aksi itu, SMS bertebaran. Salah satu SMS yang kami terima berbunyi : “Kerahkan semua tenaga demi Palestina! Sumbangkan waktu, tenaga, suara dan hartamu untuk jihad! Ikutilah aksi demonstrasi mendukung Palestina, dari Bundaran HI sampai Kedubes Amerika pada 02/01/09! Kenakan atribut partai, tunjukkan bahwa kader PKS bulat suaranya mendukung saudara-saudara kita di Palestina!” Sebagian SMS yang lain nadanya lebih formil, namun kurang lebih seperti itu. Tak sekalipun terdengar seruan untuk mendulang suara dari melayangnya nyawa para syuhada di Palestina. Tak ada secuil pun usaha untuk menarik simpati masyarakat kepada PKS. Semua orang tahu siapa kami, dan semua orang tahu bagaimana sikap kami terhadap Palestina. Kami tidak pernah merasa perlu melakukan kampanye dengan cara begini.
Maaf, jika definisi “partai politik” dalam benak Anda berbeda dengan kami. Hemat kami, parpol hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang dapat digunakan, mulai dari memberantas korupsi, menyusun regulasi, mendukung agenda pengentasan kemiskinan, sampai advokasi terhadap perjuangan rakyat Palestina. Partai kami tidak banyak duit, sehingga kami tidak bisa mendulang suara dengan cepat lewat jalur money politic. Kami tidak menjanjikan uang atau nasi bungkus kepada kader-kader kami untuk berkumpul di sekitar Bundaran HI. Mereka datang jauh-jauh dari Depok, Bogor, bahkan Cimahi dan Majalengka, murni dengan biaya sendiri. Mereka rogoh kantung sendiri untuk datang dan menunjukkan pada saudara-saudaranya di Palestina bahwa di negeri ini masih banyak yang peduli dengan nasib mereka. Mereka bahkan diinstruksikan untuk membawa bekal sendiri, meskipun alhamdulillaah sebagian besar berhasil mengkoordinir konsumsi bersama.
Inilah ikatan yang lebih kuat daripada kewarganegaraan, ikatan perjanjian, ataupun pertalian darah. Aqidah-lah yang membuat mereka mengesampingkan semua agenda pada hari itu demi membela saudara-saudaranya yang mati dibunuh dan hidup ditindas. Aqidah-lah yang membuat jarak sebentang samudera bagaikan hanya sejarak uluran tangan saja. Mereka adalah saudara-saudara kami. Orang tua mereka adalah orang tua kami, dan anak-anak mereka adalah anak-anak kami. Betapa pedih hati ini memikirkan penderitaan mereka, dan betapa menderita hati kami karena begitu sedikitnya bantuan yang bisa kami berikan.
Maaf, barangkali pikiran kami memang demikian terlena dengan korban yang terus berjatuhan di Palestina. Ketika diminta berkumpul, kami pun menjawab panggilan itu. Menggunakan atribut partai adalah refleks, karena memang kami adalah kader partai. Banyak juga kader yang tidak punya atribut partai dan datang seadanya. Tapi tak mengapa, karena memang kami tidak mementingkan atribut. Itu hanya refleks semata, sekedar untuk menunjukkan identitas. Memang pikiran kami terfokus penuh kepada Palestina, sehingga lupa pada aturan Pemilu. Pasalnya, partai kami ini memang tidak hanya sibuk menjelang Pemilu. Bagi kami, Pemilu hanyalah satu dari sekian banyak hal dalam agenda partai. Kampanye kami tidak mesti dengan bendera dan pengerahan massa, melainkan yang utama adalah dengan pemikiran dan prestasi. Semua orang tahu siapa kami.
Maaf, saat itu kami memang tak pernah kepikiran tentang Pemilu. Bukan sekali ini saja kami mengerahkan sekian ribu kader untuk mendukung Palestina. Jika 7% pemilih pada tahun 2004 yang lalu memilih PKS, maka kami ingin semua orang tahu bahwa yang 7% itu semuanya mendukung Palestina. Itulah manfaat atribut bagi kami, lainnya tidak. Palestina menyita banyak sekali ruang pikiran kami, sehingga perebutan suara di Pemilu esok hari terlupakan begitu saja. Maaf jika hal ini barangkali sulit dipercaya, namun demikianlah adanya. Anda tahu siapa kami.
Maaf, kebanyakan diantara kami memang tak bisa memberikan rumah bertingkat, mobil mewah, atau sekolah keluar negeri bagi anak-anak dan istri kami. Namun kami berusaha sebisanya untuk menjaga kehangatan keluarga. Kami ikat keluarga kami, bukan hanya dengan ikatan keluarga, melainkan juga dengan aqidah. Ayah, istri, dan anak-anak, semuanya turut mendukung dakwah. Karena mendukung Palestina adalah tuntutan aqidah, maka kami tak sempat lagi memikirkan Pemilu dan segenap aturannya. Mungkin jika Anda melepaskan sejenak kacamata politik konvensional yang selalu Anda kenakan itu, Anda akan paham apa yang kami jelaskan ini.
Maafkan pula jika reaksi kami berbeda dengan persangkaan orang banyak. Anda punya kekuatan hukum dan politik untuk menjebloskan para qiyadah kami ke penjara, tapi Anda takkan punya kuasa untuk memadamkan api dakwah. Anda semestinya belajar dari Mesir, Turki, atau Palestina; negeri-negeri di mana dakwah tidak pernah (dan takkan) punah. Kami bukan partai picisan yang hilang akal jika qiyadah kami dipenjara atau dibunuh sekalipun, dan qiyadah kami bukanlah aktifis kemarin sore yang terkencing-kencing ketakutan diancam dengan terali besi. Buya Hamka, Sayyid Quthb, Ahmad Yassin dan banyak mujahid lain telah mengikuti jejak Nabi Yusuf as. yang tak berhenti berkembang dari balik jeruji. Jika Allah menghendaki para ulama untuk masuk penjara, itu artinya mereka dipanggil untuk menyendiri bersama-Nya. Insya Allah ketika sudah lulus dari ‘madrasah penjara’, mereka telah berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih perkasa dan jauh lebih menyeramkan di mata musuh-musuh Allah.
Maaf, kami memang beda. Tapi kami meminta maaf bukan karena berbeda, melainkan karena belum berhasil membuat Anda mengerti. Semua orang tahu siapa kami. Anda pun pasti tahu. Adakalanya kami berbuat kesalahan, lupa dan lalai, namun hal itu tentunya tak sampai membuat orang lupa siapa kami ini sebenarnya. Kami takkan berhenti memperjuangkan apa yang selama ini kami perjuangkan, dan melawan apa yang selama ini kami lawan. Namun kami janji, lain kali akan lebih waspada terhadap tipu daya.
wassalaamu’alaikum wr. wb.
Al Qaradhawi: Tidak Boikot Produk Israel dan AS Dosa Besar
Kembali Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional menunjukkan pembelaannya yang tegas terhadap penderitaan rakyat Gaza, kali ini beliau memfatwakan keharaman jual-beli produk-produk Israel dan Amerika. Ia mengatakan dalam salah satu khutbah tentang problematika boikot ekonomi terhadap pihak-pihak yang memusuhi umat Islam yang dilansir oleh situs resmi beliau.
Al Qaradhawi menegaskan:
�Ada jihad ekonomi, yaitu kita membuat fatwa, fatwa yang saya keluarkan bersama sejumlah ulama tentang keharaman jual-beli produk-produk Israel dan Amerika. Boikot, boikot semua produk-produk Israel dan Amerika adalah merupakan kewajiban setiap umat. Semua yang berbau produk Amerika.�
Beliau mengisyarakatkan bahwa kata �coca cola� berarti Amerika, Burger, Mc Donald, Pizza Hut, semua itu produk-produk Amerika.
�Setiap kali saya melihat produk-produk ini dada saya bergemuruh, jiwa saya meronta, kami ingin umat memboikot produk-produk ini. Bahkan cannel tv BBC, mobil sampai pesawat boing. Kami menghimbau pemerintah dan rakyat agar segera memboikot produk-produk ini, dan agar dibentuk semisal komisi atau panitia khusus untuk mengevaluasi sejauh mana efektifitas gerakan boikot dan penentuan skala prioritas boikot. Setiap produk yang ada gantinya, wajib diboikot. Apa yang menjadikan kita memiliki mobil produk Amerika, padahal kita mampu membeli mobil dari Jepang dan Jerman?? Kita tidak akan rugi sama sekali. Boikot ini hukumnya wajib bagi semua, baik sekala besar maupun kecil.�
Lebih lanjut beliau menegaskan:
� Kami menghendaki umat Islam, laki-laki dan perempuan, ibu-ibu rumah tangga agar tidak membeli produk-produk Amerika. Boleh jadi ada produk-produk Israel dengan label lain, karenanya siapa yang mengetahui itu, wajib baginya untuk memboikot, hukumnya haram. Bahkan merupakan bagian dari dosa besar membeli produk-produk itu di masa sekarang ini. Ini bagian dari jihad yang ada dalam Islam, harus kita lakukan dan beritahu orang lain.�
Klik alamat di bawah ini untuk mengetahui produk-produk yang membantu gerakan Zionis Israel:
http://www.kate3.com/what/list_full.jsp. (it/ut)
BAYANAT DSP PKS TENTANG AHMADIYAH
Bayan Dewan Syari`ah Pusat
Partai Keadilan Sejahtera
Nomor: 17/B/K/DSP-PKS/1429
Tentang Ahmadiyah
Ahmadiyah atau Al-Qadiyaniyah adalah aliran keagamaan yang dibidani oleh penjajah Inggris bertujuan agar umat Islam tidak melakukan jihad menentang koloni terhadap Inggris. Didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India pada tahun 1889M/ 1309 H. Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiani (1835 -1908) mengaku sebagai al-masih, al-mahdi dan nabi akhir zaman setelah nabi Muhammad saw., dia juga mengaku mendapatkan wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril, bahkan mengaku Allah berbicara langsung dengannya. Kumpulan wahyunya termuat dalam kitab Tadzkirah. Para pengikutnya mensejajarkan imamnya dengan nabi Daud as, Musa as, Isa as dan Muhammad saw.
Tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah isinya penuh dengan kebohongan dan kedustaan. Sebagian besarnya berupa pembajakan dan pemalsuan dari Al-Qur’an. Di antara kedustaan dan pemalsuan isi kitab tadzkirah antara lain:
”Wahai Ahmad semoga Allah memberkahimu, bukanlah engkau yang melempar, ketika engkau melempar, tetapi Allahlah yang melempar” (Tadzkirah hal 43)
Ayat Tadzkirah diatas adalah bajakan dari Al-Qur’an surat Al-Anfal 17. Dalam kitab Tadzkirah yang lain Mirza Ghulam berkata: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu kepadaku bahwa setiap orang yang tidak mengikutimu dan tidak bai’at kepadamu, maka ia durhaka kepada Allah dan termasuk ahli Jahannam” (Tadzkirah, hal : 342)
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya (Mirza Ghulam Ahmad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama semuanya” (Haqiqatul Wahyi hal 71).
Ayat Tadzkirah diatas adalah bajakan dari Al-Qur’an surat As-Shaff 9. Ayat tersebut diakui oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai wahyu yang dia terima dari Allah Ta’ala. Rasul-Nya diakui sebagai Mirza Ghulam Ahmad yang telah diangkat oleh Allah menjadi nabi dan rasul dari India, dan agama yang benar diakuinya sebagai agama Ahmadiyah.
Demikianlah kitab suci Ahmadiyah berisi penuh dengan kedustaan atas nama agama, atas nama Allah dan atas nama wahyu.
Dr. Muhammad Iqbal seorang penyair terkenal dari India dan satu kota dengan Mirza Ghulam Ahmad mengatakan,” Qadianisme adalah satu organisasi yang berusaha untuk menciptakan golongan baru berdasarkan kenabian untuk menyaingi kenabian Muhammad saw.” Dalam pernyataan lain beliau mengatakan,” Sesungguhnya Qadianisme (Ahmadiyah) lebih berbahaya bagi kehidupan masyarakat Islam di Hindia dibandingkan dengan aliran Spinoza seorang filsuf Yahudi yang membrontak dengan peraturan-peraturan Yahudi” (Gerakan Perusak Qadianisme Abul Hasan An-Nadawi, Abul A’la Maududi dan Muhammad Khudr Hussein hal 25-26 diterbitkan Rabithah alam Islami )
Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada tahun 1935. kelompok pengikut Ahmadiyah Indonesia tergabung dalam wadah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang berpusat di Parung Bogor Jawa Barat dan memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia.
Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah
Diantara pokok-pokok ajaran Ahmadiyah adalah:
1. Ahmadiyah meyakini bahwa kenabian dan kerasulan tidak berakhir pada nabi Muhammad saw, tetapi masih tetap berlangsung. Dan Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya al-masih, al-mahdi, nabi dan rasul utusan Allah setelah nabi Muhammad saw.
2. Mirza mengaku bahwa Jibril as turun kepadanya dan menyampaikan wahyu dan ilham dari Allah dan kumpulan wahyunya ditulis dalam kitab tadzkirah.
3. Ahmadiyah menyakini bahwa kitab Tadzkirah sama sucinya dengan kitab al-Qur’an
4. Ahmadiyah memiliki tempat suci sendiri yaitu di Qadian India.
5. Mirza Ghulam Ahmad menyakini bahwa ajarannya yang benar, bagi mereka yang tidak masuk Ahmadiyah maka mereka adalah sesat dan akan masuk neraka Jahannam.
6. Para pengikut Ahmadiyah tidak melakukan sholat bersama umat Islam lain. Wanita Ahmadiyah dilarang menikah dengan lelaki muslim non Ahmadiyah sedangkan lelakinya boleh menikah dengan muslimah.
Berdasarkan keyakinan dan kepercayaan tersebut Dewan Syariah Pusat PKS mengeluarkan Bayan sbb:
1. Bahwa Ahmadiyah telah menodai kesucian agama Islam, menodai kesucian Al-Qur’an dan menodai nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul terakhir.
2. Bahwa Ahmadiyah adalah aliran yang sesat dan keluar dari agama Islam. Orang-orang Ahmadiyah yang tidak mau bertaubat dan kembali pada ajaran Islam setelah disampaikan kepada mereka penjelasan tentang kesesatan aqidahnya dan ajakan untuk kembali kepada aqidah dan Dinul Islam, maka mereka murtad atau keluar dari ajaran Islam, sehingga statusnya bukan sebagai pemeluk Islam (sebagai non-muslim) yang diperlakukan seperti kaum musyrikin bukan sebagai ahlul kitab.
3. Di antara akibat hukum dari kemurtadan penganut Ahmadiyah:
Tidak halal menikahi wanita Ahmadiyah• Tidak halal menikahkan wanita muslimah dengan pria Ahmadiyah. Tidak halal memakan binatang sembelihan penganut Ahmadiyah. Orang yang mati sebagai penganut Ahmadiyah tidak dirawat sebagaimana mayat muslim, tidak disholatkan dan tidak dikuburkan di areal pemakaman kaum muslimin
Demikian Bayan Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera tenatang Ahmadiyah, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.
Jakarta, 3 Jumadil Awal 1429 H
9 Mei 2008 M
DEWAN SYARIAH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, MA
KETUA
Wangi Harum Masyithah
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu �anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu �alaihi wasallam bersabda, �Pada saat malam terjadinya Isra� saya mencium bau harum, sayapun bertanya, �Ya Jibril, bau harum apakah ini?�
Jibril menjawab, �Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir�aun (Masyithah) dan anak-anaknya.�
Saya bertanya, �Bagaimana bisa demikian?�
Jibril bercerita, �Ketika dia menyisir rambut putri Fir�aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca �Bismillah (dengan nama Allah).�
Putri Fir�aun berkata, �Hai, dengan nama bapakku?�
Masyithah berkata, �Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.�
Putri Fir�aun bertanya, �Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, �Ya.�
Anak putri Fir’aun berkata, ‘Akan aku laporkan pada ayahku.’
Wanita tukang sisir menjawab, ‘Silahkan!’
Putri Fir�aun kemudian melaporkan kepada bapaknya, dan Fir�aunpun kemudian memanggil Masyithah.
Fir�aun bertanya, �Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?�
Masyithah menjawab, �Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.�
Kemudian Fir’aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Fir�aun, �Saya mempunyai satu permohonan.�
Fir�aun menjawab, �Katakanlah.�
Masyithah berkata, �Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain/kantong untuk kemudian dikuburkan.�
Fir�aun menjawab, �Akan aku penuhi permintaanmu.�
Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.
Si bayi diatas gendongan Masyithah, atas izin Allah tiba-tiba berbicara, �Terjunlah Ibu! Ayo terjunlah, adzab dunia lebih ringan daripada adzab Akhirat.� Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma�uz Zawa�id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza�. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir�aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?
Ibroh (Pelajaran yang dapat dipetik):
1. Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah.
2. Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3. Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah dalam QS: Az-Zumar: 10,
” Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.”
4. Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Fir’aun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu.
5. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta�ala senantiasa memberi jalan keluar untuk para waliNya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6. Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang shalih dan shalihah.
7. Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa.
Sumber :
http://kisahislam.com/kisah-teladan/4-wangi-harum-masyithah-
Fatwa: Urgensi, Bahaya dan Pengaruhnya di Masyarakat
Oleh Ust. Muntaha, Lc.
Fatwa adalah penjelasan suatu hukum syar’i (agama) oleh mufti untuk individu atau kelompok yang bertanya tentang permasalahan keagamaan. Orang yang menjawab pertanyaan keagamaan tersebut dinamakan “Mufti”.
Sebelum berfatwa, perhatikan beberapa hadits Nabi berikut:
“Orang yang paling berani berfatwa, dilalah yang paling berani memasuki api neraka” (Hadits).
“Jika suatu urusan sudah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kedatangan hari Kiamat”. (Hadits)
Allah tidak akan mengangkat ilmu (dari dunia ini) dengan serta merta dari hamba-hambaNya, akan tetapi ilmu itu akan diambil dengan kematian ulama’, sehingga jika sudah tidak ada orang yang ‘alim, maka orang akan mengangkat pemimpin-pemimpin agama yang bodoh, lalu masyarakat akan bertanya kepada mereka, maka mereka akan menjawab tanpa dasar ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan”. (Hadits)
Abu Hanifah berkata: “Kalau bukan karena takut kepada Allah dan khawatir ilmu agama ini hilang, aku tidak akan pernah memberikan fatwa”.
Seberapa Pantas
Hudzaifah.org – Dalam sebuah tulisannya, Ust. Rahmat Abdullah pernah mengaitkan militansi dengan jiddiyah, kesungguhan. Bagaimana seseorang memilki kerelaan untuk bekerja keras, untuk menderita, demi sesuatu yang diyakininya sebagai kebenaran. Manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya.
Apabila kita memandang sesuatu benda bernilai sangat berharga, maka kita akan rela berkorban dan berusaha dengan penuh kesungguhan (jiddiyah) untuk mendapatkan, menjaga, dan mempertahankan benda tersebut. Sebaliknya, bila kita memandang benda tersebut tidak cukup berharga untuk kita perjuangkan, maka jangan harap bahwa kita akan tergerak untuk berkorban dan berjuang dengan penuh kesungguhan.
Hingga pada akhirnya militansi dalam dakwah memang berpulang pada bagaimana persepsi sang da’i terhadap dakwah. Tergantung seberapa pentingnya dakwah tersebut bagi sang da’i, dan seberapa pantasnya dakwah untuk diperjuangkan dengan penuh kesungguhan. Akan ada saat ketika komitmen seorang da’i dibenturkan dengan berbagai kesulitan dan masalah, dan itulah saat untuk mengetahui kualitas militansinya.
Kesadaran akan Beban dan Amanah Dakwah
Dalam banyak kegiatan dakwah, dalam banyak organisasi dakwah, ketika kita melakukan evaluasi atas kegiatan dan organisasi kita itu, ada suatu masalah klasik yang nyaris selalu ada dalam setiap hasil evaluasi kita, yaitu masalah sumber daya da’i. Namun “masalah” ini jangan-jangan bukan sebuah masalah, tapi justru merupakan fithrah dari dakwah ini sendiri. Bukan bermaksud untuk mencari pembenaran atas kekurangan pada kerja-kerja dakwah, tapi untuk mempertegas bahwa dalam sejarah perjalanan dakwah, jumlah rijal yang menyeru kepada kebaikan dan kebenaran selalu jauh lebih sedikit dari orang-orang yang perlu dan harus “diselamatkan”, selalu lebih sedikit dari yang dibutuhkan, sehingga bebannya pun lebih berat dari kebanyakan orang. Keadaan ini kerap kali menghadapkan kita pada posisi tidak punya pilihan, atau harus menetapkan pilihan yang serba sulit. Begitu banyak amanah yang harus diemban, sementara sumber daya manusia begitu terbatas, baik jumlahnya yang tidak mencukupi, ataupun kualitasnya yang tidak merata. Dalam konteks ini, pengertian amanah yang overload pada seorang da’i menjadi dipertanyakan. Bukankah da’wah itu memang berat? Bukankah sudah menjadi kepastian bahwa seorang da’i bebannya lebih besar dari kebanyakan orang? Sehingga sudah tidak pada tempatnya lagi kalau seorang da’i masih mengharapkan waktu senggang dan kesenangan-kesenangan seperti orang-orang lain yang tidak mengemban amanah dakwah.
Kesenangan dan hiburan bagi da’i hanyalah untuk memulihkan stamina agar dapat terus berderap di jalan yang panjang. Dan kebersamaan para da’i adalah hiburan dan kesenangan bagi mereka. Kebersamaan dalam menanggung beban, tertawa bersama dan menangis bersama adalah bagian dari kebahagiaan dalam jalan dakwah.
Militansi seorang da’i akan mendorongnya untuk sensitif dan responsif terhadap permasalahan dakwah. Ia akan merasakan bahwa permasalahan dakwah adalah juga masalah pribadinya, karena ia sangat menyadari bahwa setiap orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Allah azza wa jalla akan meminta pertanggungjawaban dari setiap pribadi atas semua yang dilakukan dan tidak dilakukannya. Amanah-amanah yang merupakan bagian dari proyek dakwah dan beban jama’ah, ketika tidak dilaksanakan dengan baik atau terabaikan, akan menjadi tanggung jawab dari tiap individu da’I sebagai bagian dari jama’ah.
Ketika bani Israil diperintahkan untuk tidak mencari ikan di hari Sabtu, sebagian dari mereka mencoba mengakali perintah ini dengan memasang perangkap ikan di hari Jum’at dan mengambil hasil tangkapannya pada hari Ahad. Sebagian yang lain, yang tetap menaati perintah Allah, memberikan taushiyah kepada saudara-saudaranya yang melanggar. Tapi peringatan mereka diremehkan dan bahkan dikatakan bahwa pelanggaran itu bukanlah urusan mereka. Dan para da’i, orang-orang yang memberikan peringatan ini, mengatakan bahwa mereka memberikan taushiyah itu agar mereka punya hujjah, punya bukti di hadapan Allah bahwa mereka telah melakukan sesuatu, mereka telah berbuat semampu yang mereka bisa untuk beramar ma’ruf nahi munkar, walaupun hasilnya – untuk sementara – tidaklah seperti yang diharapkan.
Kisah tersebut mengajarkan bahwa kewajiban berdakwah tidaklah gugur hanya karena mad’u kita menolak dakwah ini. Tidak pula gugur karena saudara-saudara kita meninggalkan dakwah, melalaikan amanah-amanahnya dan meninggalkan kita berjuang sendirian. Karena masalah dakwah adalah masalah pertanggungjawaban kita seorang diri di hadapan Allah. Sehingga kita punya hujjah dihadapan Allah, bahwa kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa, dan biarkanlah Allah, para rasul dan orang-orang yang beriman yang menilai kerja keras kita.
Sifat dan Tabiat Yahudi dalam al-Quran
Dalam al-Quran cukup banyak ayat yang memberitakan kaum Yahudi. Hanya saja, mereka bukan disebut sebagai kaum yang patut diteladani. Sebaliknya, mereka justru dijadikan sebagai contoh buruk agar tidak ditiru. Beberapa karakter buruk mereka adalah:
1. Durhaka dan melampaui batas, serta membiarkan kemungkaran yang terjadi di antara manusia.(QS al-Maidah [5]: 78-79).
Dan makin durhaka sesudah al-Quran diturunkan.(QS al-Maidah [5]: 64).
2. Menjadikan kaum kafir sebagai pelindung dan penolong mereka.
(QS al-Maidah [5]: 80-81).
3. Permusuhan mereka yang amat besar terhadap Islam dan umatnya. (QS al-Maidah [5]: 82).
4. Hati mereka keras laksana batu, bahkan lebih keras lagi. Di antara penyebabnya karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah Swt. (QS al-Maidah [5]: 13).
5. Suka melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri, termasuk perjanjian dengan Allah Swt dan rasul-rasul-Nya. Dan oleh karena itu mereka mendapat murka Allah dan berbagai hukuman-Nya. (QS Thaha [20]: 86). (QS al-Nisa’ [4]: 155).
6. Mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh banyak nabi. Dan itu menyebabkan mereka senantiasa diliputi dengan kehinaan dan kerendahan di mana pun mereka berada. (QS Ali Imran [3]: 112). (QS al-Nisa’ [4]: 155).
7. Banyak berbuat lancang terhadap Allah Swt, seperti menuduh Allah Swt miskin dan tangan-Nya terbelenggu. (QS Ali Imran [3]: 181). (QS al-Maidah [5]: 64).
8. Memalsukan kitab dengan tangannya, memalingkan dari maksud sebenarnya, dan menghilangkan sebagiannya. (QS al-baqarah [2]: 79). (QS al-Nisa’ [4]: 46). (QS al-Maidah [5]: 13). (QS al-baqarah [2]: 75).
9. Amat tamak terhadap dunia, bahkan melebihi orang Musyrik. Menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian. (QS al-Baqarah [2]: 96).
10. Mengenal benar siapa Rasulullah saw, namun mereka menyembunyikan kebenaran. (QS al-Baqarah [2]: 146).
11. Mengikuti hawa nafasunya, hingga risalah yang dibawa rasul pun harus pun harus sejelan dengan hawa nafsunya. Jika tidak sesuai dengan hawa nafsunya, mereka akan menolak dan mendustakannya. (QS al-Baqarah [2]: 87).
12. Tidak senang terhadap kaum Muslim selama tidak mengikuti hawa nafsu mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120).
13. Berdusta atas nama Allah Swt dengan mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya. (QS al-Maidah [5]: 18).
14. Sombong dan takabbur, hingga mereka pernah diubah wujudnya menjadi kera yang hina.
15. Di antara mereka terdapat permusuhan dan kebencian hingga hari kiamat. (QS al-Maidah [5]: 64).
16. Suka berbuat kerusakan di muka bumi. (QS al-Maidah [5]: 64).
17. Berbuat zhalim dan menghalangi manusia dari jalan Allah. (QS al-Nisa [4]: 160).
18. Suka memakan harta haram, seperti suap dan riba, padahal telah diharamkan kepada mereka. (QS al-Maidah [5]: 62). (QS al-Nisa [4]: 161).
19. Membiarkan kemungkaran yang terjadi di antara mereka; dan itu menyebabkan mereka mendapatkan laknat. (QS al-Maidah [5]: 79).
20. Suka mendengarkan berita bohong. (QS al-Maidah [5]: 42).
Patut dicatat, selain sifat-sifat yang telah dipaparkan di atas masih banyak sifat buruk lainnya yangdisebutkan dalam al-Quran. Dengan penjelasan tersebut, tetu memudahkan kita dalam bersikap dan menghadapi mereka. Terhadap kaum yang terkumpul berbagai sifat buruk di dalamnya, masihkah ada di antara kita yang mau menjadikan mereka sebagai waliyy (pemimpin, pelindung, penolong, pembantu) dan bithânah (orang keprcayaan)? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Februari 2009 (7)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS